::   62 8000 xxx   min2kotamadiun@gmail.com
Info Sekolah
Friday, 19 Jul 2024
  • Selamat Datang di Web Resmi MIN 2 Kota Madiun
12 November 2021

MEMULIHKAN MENTAL ANAK PASCA PANDEMI

Friday, 12 November 2021 Kategori : Artikel / Karya Guru

MEMULIHKAN MENTAL ANAK PASCA PANDEMI

Oleh :

Mustain Ashari, S.Pd.I

(Guru MIN 2 Kota Madiun)

Pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh banyak meenyisakan cerita. Suatu hari hampir setahun yang lalu seorang guru harus mendatangi rumah beberapa siswanya, karena hampir dua minggu lebih tidak mengirimkan tugas pembelajaran melalui whatsApp grup. Siswa pertama tidak mengerjakan tugas, karena tidak mempunyai handphone untuk mengakss tugas. Siswa lainnya tidak memilki kuota internet dan jaringan wifi, dan sisanya tidak bisa mengerjakan tugas karena tidak ada yang membantu belajar meski punya sarana handphone juga jaringan internet. pelan namun pasti kendala-kendala tersebut teratasi sehingga pembelajaran jarak jauh dapat dilaksanakan dengan lancar meski tetap ada satu dua yang terlambat atau tidak mengirimkan tugas.

Guru meski dengan tertatih karena banyak yang gagap teknologi akhirnya bisa berdamai dengan keadaan, menjadi familiar dengan google form, classroom, googlemeet, zoom, bahkan banyak yang mempunyai akun youtube untuk kepentingan upload video pembelajaran. Banyak dari guru yang mengatakan andai ada pilihan, mereka akan tetap memilih bisa belajar dengan tatap muka, bisa bertemu dengan siswa, menyampaikan pelajaran secara langsung, menjelaskan apabila ada materi yang tidak mengerti, menerima hasil tes dan langsung koreksi hanya pada jam yang telah ditetapkan dari pagi sampai siang.

Pembelajaran jarak jauh, bagi orang yang bukan guru akan ringan
berkomentar “ enak sekali guru, hanya memerintahkan mengerjakan tugas, kemudian ditinggal leha-leha sudah dapat gaji”. Namun bagi guru pembelajaran jarak jauh membutuhkan waktu dan tenaga extra. Meski sudah ditetapkan waktu pengumpulan tugas, masih banyak siswa yang mengumpulkan tugas hingga hampir larut malam. Karena hampir tiap hari hanya tugas dan tugas dengan banyak variasi yang diberikan pada siswa, mau tidak mau guru harus memeriksa hasil pekerjaan anak-anak, dan memberikan feedback kepada tiap siswa, sangat menyita waktu, hampir tidak lepas dari handphone dan laptop. Terlebih bila ada wali siswa yang enggan menyimak grup WA, dan selalu bertanya atau menyampaikan keluhan lewat japri, yang juga tidak terbatas pada jam kerja.

Ada satu hal lagi yang meresahkan bagi guru dalam pembelajaran daring ini, yaitu validitas nilai yang diperoleh siswa berdasarkan dari tugas atau penilaian harian dan semester. Hal tersebut berawal dari pengakuan wali siswa yang mengeluh anaknya tidak mau mengerjakan tugas sama sekali, sehingga mereka yang mengerjakan. Ditemukan juga hasil tugas yang dikirim lewat online tulisan tangannya terlihat bagus, rapi dan halus goresannya. Meski demikian para guru tetap berpositif thinking, dengan tetap objektif memberikan nilai dari hasil yugas yang dikirimkan.

Bagi orang tua sendiri, pembelajaran daring membuat tekanan darah menjadi naik, setiap hari harus mendampingi anak-anak mengerjakan tugas, membantu menjelaskan materi yang kadang di luar jangkaun pikirnya, anak yang ogah-ogahan belajar, belum lagi merasakan di masa pandemi ini anak banyak waktu luang sehingga banyak yang hanya lihat tv dan bermain handphone. Sementara tidak setiap orang tua memilki kreativitas untuk mengekslorasi potensi dan kemampuan anak.

Dampak belajar di rumah secara daring juga dirasakan sulit untuk diikuti oleh sebagian anak-anak yang membutuhkan penjelasan melalui interaksi langsung dengan guru. Selain itu, hilangnya kesempatan bermain dengan teman sebaya yang menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagi anak usia sekolah, Selama pelaksanaan belajar dari rumah, para siswa juga memperoleh tugas sekolah. Jika dalam pengerjaannya, tugas sekolah dominan diselesaikan oleh orang tuanya, tentu akan menimbulkan dampak ke depannya. Dampaknya, si anak akan mengalami ketergantungan pada bantuan orang lain, kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas, dan cenderung menjadi anak yang kurang percaya diri. Suatu hari nanti anak akan kembali belajar di sekolah, dimana ia harus mengerjakan tugas-tugas sendiri.

Kalau tidak dilatih mandiri dan percaya diri dalam mengerjakan tugasnya di rumah sekarang, maka ia akan sulit beradaptasi saat harus belajar di sekolah nanti. Lalu, kalau PR atau tugas dikerjakan oleh orang tua, hasil belajar atau nilai yang diperoleh anak tidak mencerminkan kemampuan anak yang sesungguhnya Dibatasinya ruang gerak masyarakat karrena pandemi membuat anak-abak tidak bisa bebas bermain, sehingga lagi-lagi larinya ke handphone, disadari atau tidak pada masa pandemi ini jam tatap ke handphone lebih banyak dari sebelumnya. Banyak pengaruh negatif dari handphone pada anak.

Dalam portal The AsianParent Indonesia, disebutkan bahwa bahaya
penggunaan gadged pada anak sebiknya dihindari dengan cara tidak membiarkan mereka terpapar teknologi tersebut secara berlebihan. apalagi diberi hak kepimilikan saat usia mereka di bawah 12 tahun, karena bisa menghambat tumbuh kembang otak mental, bahkan fisiknya. Masih dalam portal The AsianParent Indonesia, bahaya penggunaan gadget yang harus diwaspadai orang tua adalah; menggangu pertumbuhan otak, tumbuh kembang lambat, obesitas , kurang tidur, kelainan mental, sifat agresif, kecanduan, pikun digital, radiasi emisi, dan proses belajar yang tidak berkelanjutan.

Di samping dampak gadget pada anak, terdapat juga dampak psikologis bagi anak akibat pembelajaran daring ini. Menurut Lily Puspa Palupi, seorang psikolog yang bekerja di bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar, yang dimuat di Republika.co.id. Denpasar pada tanggal 4 Oktober 2020, bahwa belajar jarak jauh atau daring berpotensi memunculkan stres pada anak, bila tidak diatasi dengan pendampingan orang tua di rumah. Dampak belajar daring yang telah berjalan lebih tujuh bulan berdampak pada psikologis anak, mulai dari rasa bosan dengan aktivitas di rumah saja, anak juga dituntut beradaptasi belajar dari rumah yang pasti berbeda dengan di kelas sehingga hal-hal seperti ini bisa menimbulkan kondisi tertekan pada psikis anak dan berpotensi munculnya stres pada anak.

Dari berbagai kabar di media elektronik, nampaknya pemerintah akan menerapkan pembelajaran tatap muka pada awal tahun ajaran baru Juli 2021. Kebijakan pemerintah untuk pembelajaran tatap muka, diawali dengan diterbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri tertanggal 20 November 2020, untuk dilaksanakan pada semester genap pada tahun pelajaran 2020/2021, mulai awal Januari 2021, yang sifatnya tidak diwajibkan namun diperbolehkan dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Ketentuan tersebut di antaranya dilaksanakan dengan memenuhi standar prosedur kesehatan penanggulangan Covid-19, mengantongi ijin dari pemerintah terkait, ijin orang tua, dan juga persetujuan dari komite.

Banyaknya ketentuan untuk melaksanakan tatap muka, dan juga prasyarat sebuah lembaga memilki sarana dan prasarana prosedur kesehatan yang memadai, menyebabkan hanya sedikit sekali lembaga pendidikan yang melaksanakan tatap muka di awal bulan Januari, di samping juga masih ada kekhawatiran masyarakat akan persebaran wabah covid saat itu. Sampai akhirnya pada pertengahan bulan Maret, setahun setelah masa pandemi berlangsung, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengintruksikan untuk mendakan uji coba pembelajaran tatap muka yang disambut antusias oleh lembaga pendidikan dan masyarakat.

Dalam portal berita Detik News tertanggal 14 April 2021, dibertiakan dari seluruh 38 pemerintah kabupaten dan kabupaten di Jawa Timur hanya 4 kabupaten dan kota yang belummelaksanakan uji tatap muka, yaitu Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kota Malang, dan Kota Surabaya. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka pasca pembelajaran jarak jauhnmembutuhkan persiapan dan kesiapan bagi guru dan siswa. Pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan hampir 3 semester ini telah memberikan dampak dan kebiasaan baru terutama bagi siswa yang akan membutuhkan adaptasi lagi saat dilaksanakan pembelajaran tatap muka. Peran orang tua sangat diperlukan dalam rangka mempersiapkan anak mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah.

Dalam Bisnis.Com (21 Nopember 2020), Psikolog Anak Gisella Tani
Pratiwi mengatakan Pertama, orang tua harus memastikan anak memahami situasi pandemi Covid-19. Kedua, anak wajib terlatih mengikuti protokol kesehatan. Ketiga, orang tua harus memastiksn sekolah menerapkan protokol kesehatan. Keempat, ajak anak mengamati dan memahami proses belajar mengajar, terutama bagi mereka yang baru masuk di kelas 1 SD, bisa dilakukan melalui video, buku cerita, atau bermain pura-pura sekolah.

Dengan demikian, anak bisa paham aturan dalam kelas yang mungkin lebih tegas dan butuh sikap belajar yang lebih serius. Kelima, usahakan anak sudah terlatih memiliki sikap belajar yang memadai. Misal, bagaimana memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu, memahami instruksi dari guru, dan menaati peraturan yang diberikan. Keenam, kenalkan jadwal yang baru ketika akan masuk sekolah. Ketujuh, persiapkan anak untuk beradaptasi pada kebiasaan belajar yang baru, ada saatnya anak mandiri terutama ketika di kelas dengan guru dan murid-murid lain. Selain itu, ada saat dimana anak masih mendapat bimbingan dari orang tua misal selepas kegiatan di kelas. Kedelapan, ajak anak mengenali sisi menyenangkan dari sekolah. Bicarakan manfaat yang akan ia dapatkan dari belajar di sekolah.

Dengan kata lain beri kesempatan anak untuk melakukan proses healing, mengajak anak-anak untuk banyak bermain dan melakukan kegiatan rekreatif sebelum melakukan aktifitas pembelajaran. Mengajak mereka dalam aktivitas seni seperti menggambar bebas, atau membuat prakarya kreatif akan membantu anak untuk rilis emosi yang mereka alami. Anak dapat diajarkan berbagai teknik self healing lainnya, seperti menulis catatan atau cerita di buku, dan berbagai macam teknik relaksasi lainnya. Permainan yang melibatkan anak untuk bergerak, dan berteriak melepas ekspresi emosi dengan spontan dan gembira dapat menjadi alternatif.

Sedangkan persiapan untuk guru menurut Lita Edia Harti, S.Psi Direktur Sekolah RA dan SDIT Amal Mulia Depok, pihak pimpinan sekolah perlu memberikan edukasi kepada guru, sekaligus memberikan ketenangan kepada mereka bahwa sebelum sekolah menuju pencapaian akademik, penting sekali untuk memulihkan kesehatan mental anak lebih dahulu. Karena kesehatan mental ini pada dasarnya akan mempengaruhi keterampilan belajar anak. Rentang konsentrasi, daya ingat, dan daya tangkap anak sangat dipengaruhi oleh kondisi emosi anak. Semakin dominan emosi positif dalam diri anak, mereka akan semakin terampil dalam belajar. Karena tugas guru pasca pembelajaran jarah ini lebih ke memulihkan kesehatan mental anak.

Pihak pimpinan sekolah perlu juga memperhatikan kondisi emosi guru, guru bisa mengalirkan emosi positif pada anak, jika ia memiliki emosi positif. Memberi kesempatan pada guru untuk rileks dengan aktivitas yang menyenangkan dalam sebuah aktivitas bersama, serta memberi kesempatan guru untuk bereksplorasi juga berpendapat secara merdeka, dapat meningkat rasa percaya diri dan semangat guru. Selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, terdapat dampak-dampak teknologi dan psikologis bagi anak. Perlu perhatian dan penanganan terhadap dampak tersebut sebelum pembelajaran tatapa muka di madrasah dilaksanakan, agar anak tidak mengalami gagap belajar dalam kelas setelah sekian lama belajar melalui gadget. Kesiapan pihak madrasah terkait dengan sarana kebersihan, juga kesiapan menerapkan protokol kesehatan menjadi langkah aal bagi pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Diperlukan juga kerjasama yang apik antara orang tua dan madrasah agar pelaksanaan pembeelajaran tatap muka lancar dan anak enjoy belajar kembali di madrasah.

Daftar Pustaka:

– Pengalaman Pribadi

– “10 Bahaya Penggunaan Handphone pada Anak di bawah Usia 12 Tahun, https://id.theasianparent.com/10-bahaya-penggunaan-gadget padaanak

– “4 kabupaten dan kota diminta untuk mengikuti uji tatap muka”
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5531650/

No Comments

Tinggalkan Komentar

 

Pengumuman

Diterbitkan :
Penerimaan Peserta Didik Baru Madrasah (PPDBM)   MIN 2 Kota Madiun Tahun Pelajaran 2024/2025
Assalamualaikum wr.wb Dengan hormat, Bersama ini kami sampaikan hasil Penerimaan Peserta Didik Baru Madrasah (PPDBM) ..

Agenda

28
Jan 2023
waktu : 06:00
27
Jan 2023
waktu : 06:00
24
Jan 2023

Categories

Statistik

Archives

Video Terbaru

Info Madrasah

MIN 2 Kota Madiun

NSPN : 60720865
JL. TANJUNG RAYA NO. 16 MANISREJO KOTA MADIUN
EMAIL min2kotamadiun@gmail.com